Sabtu, 2 Mac 2013


MASALAH FAKTA DALAM SEJARAH

A.    Pengertian Fakta
Menurut The New Lexicon (Helius Sjamsuddin dalam buku Metodologi Sejarah 2007:20) menyatakan bahwa, “fakta adalah sesuatu yang diketahui kebenarannya, suatu pernyataan tentang sesuatu yang telah terjadi”.
Munurut Gottschalk (Nugroho Notosusanto dalam buku Mengerti Sejarah 1993:113), menyatakan bahwa, “fakta didefenisikan sebagai sesuatu unsur yang dijabarkan secara langsungatau tidak langsung dari dokumen-dokumen sejarah dan dianggap kredibel setelah pengujian yang saksama sesuai dengan hukum-hukum metode sejarah”.
B.     Masalah fakta dalam sejarah
1.      Hipotesis Sementara
Dalam fakta-fakta yang didapat peneliti, peneliti harus memiliki dugaan atau pemikiran sementara untuk dipertanyakan. Guna pertanyaan yang muncul dari peneliti adalah untuk mengarahkan sebuah penelitian. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul maka seorang peneliti dapat menemukan gambaran-gambaran atau mungkin dapat menimbulkan hipotesis mengenainya. Tetapi seorang peneliti tidak akan dapat mempertanyakan pertanyaan yang sederhana sekalipun tanpa mengetahui beberapa masalah yang dipertanyakan.
2.      Fakta Dari Kesaksian Primer Dan Kesaksian Sekunder
Dalam penulisan sejarah, peneliti butuh data yang didapat dari kesaksian orang-orang yang berhubungan langsung dengan sebuah kejadian atau peristiwa sejarah. Kesaksian bisa didapat dari kesaksian primer atau dari kesaksian sekuder. Seorang saksi primer adalah saksi yang berhubungan langsung dengan peristiwa sejarah tersebut. Sedangkan kesaksian sekunder adalah kesaksian dari orang yang paling dekat dengan saksi primer seperti: keluarga, saudara, teman, dan yang lainnya. Kesaksian sekunder dipergunakan apabila sudah tidak ada lagi saksi primer yang hidup pada masa itu. Tetapi seorang peneliti juga tidak dapat terlalu mengandalkan kesaksian sekunder karena kesaksian sekunder bukan orang yang berperan langsung dalam peristiwa sejarah. Perkataan kesaksian sekunder juga tidak dapat dipercaya keseluruhannya karena kesaksian sekunder hanya mendapat cerita pokok dari kesaksian primer.
3.      Kebenaran Fakta Dari Kesaksian
Dalam memperoleh fakta terutama yang berhubungan dengan kesaksian, seorang peneliti perlu jeli dalam mengolah fakta yang didapat. Dalam sebuah kesaksian dari penuturan saksi, peniliti perlu untuk mempertanyakan sebuah kesaksian yang didapatnya. Dalam sebuah kesaksian seorang saksi, akan ada banyak unsur yang mempengaruhi akan mempengaruhi keasilan sebuah kesaksian, yang diantaranya;
-           seorang saksi yang mampu dan mau untuk memberi kesaksian berkemungkinan memiliki keuntungan sendiri untuk dirinya, atau sebuah kesaksian yang disampaikan saksi berkemungkinan bohong apabila seorang saksi memiliki tujuan dari kesaksiannya,
-           ada pula kesaksian yang mengarahkan, maksudnya  bahwa kesaksian yang diberikan saksi bermaksud untuk mengarahkan peneliti pada kesaksian yang diinginkan saksi
-          Kesaksian yang diberikan dapat merugikan saksi, orang-orang terdekat saksi, dan yang lainya. sehingga saksi memberikan kesaksian palsu
4.      Pencarian Detail Khusus Dari Kesaksian
Dalam sebuah kesaksian, walaupun kesaksian palsu sekalipun seorang peneliti harus dapat mencari detail khusus dari kesaksian pelaku. Dari kesaksian tersebut jika sebuah kesaksian bohong dalam kesaksiannya, maka peneliti dapat mencari pokok penting yang menjadi petunjuk dari sebuah kesaksian. Karena bagaimanapun sebuah kesaksian yang palsu akan mengarah atau menjurus pada sebuah fakta yang sebenarnya. Dalam kesaksian palsu sekalipun satu kata saja bisa membantu seorang peneliti dalam melakukan penelitiannya.
Jadi seorang peneliti tidak dapat mengabaikan sebuah kesaksian yang didapatnya tanpa adanya penyelidikan, dan tugas penelitilah yang nantinya akan memisahkan mana data yang relevan dan yang tidak.
5.      Fakta Yang Berbentuk Objek/Barang
Sebuah fakta yang berasal dari barang seperti dokumen, biasa dipergunakan oleh peneliti. Sebuah dokumen amat berguna dalam penelitian sejarah sebagai bukti otentik. Fakta yang bersifat objektif sangat berguna dalam penelitian sejarah untuk menentukan perkiraan waktu, tempat, atau peristiwa. Karena bukti yang berbentuk barang tidak dapat berbohong tetapi dapat dipalsukan. Namun dalam mengolah dokumen peneliti dipersulit oleh data yang kurang lengkap terutama jika sebuah dokumen yang sudah lama tetapi beberapa bagian hilang, atau untuk mengetahui perkiraan waktu pada dokumen yang didapat peneliti ternyata dokumen tersebut sudah sulit untuk diolah mungkin karena bagian dokumen ada yang terpotong atau dukumen telah usang.
6.      Keaslian Sebuah Fakta Berbentuk Objek/Barang
Dalam meneliti seorang peneliti tidak dapat dengan mudah mempercayai apa yang dilihatnya.  Dalam penelitian sejarah seorang peneliti harus kritis terhadap fakta yang ia dapat terutama yang berbentuk barang. Bisa dicontohkan sebuah dokumen, dari dokumen-dokumen yang didapat oleh seorang peneliti, peneliti harus dapat mempertanyakan dokumen-dokumen tersebut apakah dokumen itu asli atau palsu. Karena dalam masalah fakta yang berbentuk objek/barang ini, sering terjadi pemalsuan terutama pada dokumen yang menjadi bukti sejarah. Dokumen-dokumen yang dimiliki peneliti terkadang adalah dokumen palsu. Sehingga peneliti diharapkan untuk teliti dalam mengolah bukti yang didapat.
7.      Kebenaran Fakta Dari Pengarang
Dalam sebuah fakta berupa dokumen atau data yang didapat peneliti, data tersebut tidak boleh langsung dipercayai oleh peneliti tanpa adanya penelitian. Terutama apabila pengarang atau penulis dari dokumen atau data belum diketahui atau datanya kurang, maka tugas peneliti untuk melakukan penyelidikan terhadap pengarang terlebih dahulu. Karena tanpa tau pengarang dari sebuah fakta sejarah akan berakibat fatal. Sebuah dokumen bisa saja dibuat oleh orang-orang yang berkepentingan untuk melakukan pemalsuan sejarah untuk kepentingannya. Jadi peneliti tidak dapat menerima begitu saja sebuah bukti tanpa mengetahui darimana bukti itu berasal.
8.      Penilaian Pribadi
Menurut Sartono Kartodirjo (1993:88), menyatakan bahwa, “fakta adalah kontruks yang dibuat sejarawan, sehingga telah mengandung unsur-unsur subjektif dari penulis sendiri”. Jika pandangan ini benar, maka akan sulit untuk mempertanggujawabkan fakta yang benar terjadi. Tetapi Bapak studi sejarah kritis mengatakan bahwa sejarawan hanya bertugas untuk membuat sejarah sesuai fakta. Sedang Von Ranke menyatakan bahwa fakta itu sudah objektif, tetapi yang sebenarnya tidak ada fakta yang benar-benar 100% objektif karena bagainamapun sebuah fakta sejarah nilainya sudah berubah. Hal ini disebabkan karena adanya unsur subjektif. Namun paling tidak fakta itu ada yang hampir mendekati. Seperti penuturan Gottschalk (Nugroho Notosusanto dalam buku Mengerti Sejarah 1993:112), bahwa “fakta tidak harus sungguh-sungguh terjadi, tetapi setidaknya fakta mendekati dengan kejadian yang sesungguhnya, sejauh kita dapat mengetahui dengan melakukan penyelidikan kritis dengan sumber-sumber terbaik yang ada”. Jadi fakta dikatakan sesuatu yang tampaknya benar tetapi bukan benar secara objektif.
Dalam sejarah masalah fakta banyak terjadi karena setiap sejarawan memiliki pandangan tersendiri terhadap sejarah yang ia tulis. Banyak tulisan sejarah yang pro dan kontra tentang sebuah sejarah. Hal ini disebabkan oleh bagaimana sejarawan dalam penulisannya sendiri sehingga fakta itu sering diarahkan pada sebuah penilaian seperti nilai etis, nilai rasial, nilai agama, kelas sosial, dan lainnya. Fakta sangat terpengaruh terhadap nilai-nilai tersebut. Contohnya fakta akan peran wanita masa feminimisme banyak di abaikan. Jadi nilai dan norma membantu dalam penyeleksian fakta. Faktor nilai juga menunjukan relevansi fakta terhadap konteks, keberpihakan, partisipan dalam menggarap fakta. Jika nilai-nilai dibiarkan masuk kedalam fakta maka subjektifisme akan merajalela dan kejujuran ilmu akan terpengaruhi.
Tetapi fakta seperti apa, kapan, siapa, dan dimana, akan terasa kosong ibarat rumah yang tidak diisi, maka dibutuhkan pemikiran-pemikiran dari sejarawan untuk mengisi fakta-fakta tersebut agar berisi. Fakta tidak bicara sendiri, fakta tanpa sejarawan tidak akan memiliki arti, karena sejarawanlah yang akan mengisi fakta sehingga menjadi cerita. Fakta tanpa diisi akan seperti cerita kosong tetapi setelah diisi oleh pemikiran sejarawan, maka fakta itu akan menjadi sebuah cerita yang berisi dan penting. Hubungan antara fakta dengan sejarawan adalah sebagai pemberi dan penerima. Sejarawan dan fakta ibarat masa lampau dan masa sekarang, mereka saling terhubung dan saling membutuhkan.
Jadi pada intinya pemikiran yang dimiliki oleh sejarawan memang dibutuhkan untuk mengolah fakta yang ada untuk menjadikannya sebuah cerita yang penting dan bermakna. Tetapi seorang sejarawan tetap harus memperhatikan dalam menyeleksi fakta dan penulisan sejarah, bahwa fakta harus sesuai dengan fakta yang sebenarnya dan seorang sejarawan tidak boleh mencampurkan unsur subjektif (keberpihakan) terhadap fakta sejarah yang akan dibuat.


KESIMPULAN
Dalam penelitian sejarah, unsur terpenting adalah fakta. Fakta amat menentukan dalam sebuah penulisan sejarah. Masalah-masalah yang dibahas dalam makalah ini lebih  menjelaskan penyalahgunaan fakta dalam sejarah, bagaimana penyalahgunaan dilakukan menyangkut fakta sejarah dan bagaimana fakta sejarah yang telah ada atau didapat ternyata memiliki tingkat keakuratan yang rendah. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kemurnian ilmu sejarah, bahkan sebuah cerita sejarah dapat dipertanyakan pertanggungjawabannya terhadap peneliti akubat kurangnya ketelitian dapam melakuakn penelitian. Jadi dengan adanya masalah-masalah fakta dalam sejarah tersebut, sejarawan diharapkan dapat lebih teliti dalam mengelolah fakta-fakta yang didapat agar tidak ada lagi kesalahan terhadap sumber yang didapat oleh peneliti dan agar tidak adanya kesalahan terhadap penulisan sejarah yang akan membuat persepsi yang salah pula terhadap orang-orang yang mengetahui tentang sejarah tersebut.


DAFTAR PUSTAKA
Gottschalk, Louis. 1993. Mengerti Sejarah. Bandung: UIP.
Kartodirdjo, Sartono. 1993. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia.
Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakatra: Bentang
Sjamsuddin, Helius. 2007. Metodologi Sejarah. Bandung: Ombak.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Catat Ulasan